DARI YALIMO KE PUNCAK JAYA: KISAH DAN NALCA, IKATAN KELUARGA, DAN PESAN KEHIDUPAN DARI DOLINGGAME
Oleh, Deli Wonda, S. Kom (Intelektual Yamo)
Dolinggame, Yamo,Senin, 20 Agustus 2026
Sebuah perjumpaan sederhana di halaman rumah Deli Wonda, S. Kom di Kampung Dolinggame menghadirkan kembali jejak perjalanan panjang, ikatan kekeluargaan, kenangan masa lalu, serta pesan kehidupan yang penuh makna.
Perjumpaan itu terjadi antara Deli Wonda dan Bapak Dan Nalca, seorang pria asal Yalimo yang sejak kecil tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga Wonda di Agobaga Distrik Ilu (dulu) Wilayah Yamo.
Di tengah suasana kampung yang tenang, sambil memandang ke arah kawasan Ilu-Yamo, keduanya berbincang tentang masa lalu, keluarga, pendidikan, pelayanan, hingga arti persaudaraan yang melampaui hubungan darah.
DIBESARKAN MAMA LESMIN WONDA SEJAK KECIL
Bapak Dan Nalca menceritakan bahwa perjalanan hidupnya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan keluarga di Agobaga. Sejak masih kecil, ia diasuh dan dibesarkan oleh Mama Lesmin Wonda dari Kampung Agobaga. Dalam perjalanan kehidupannya, Mama Lesmin Wonda kemudian menjadi sosok ibu yang sangat berarti baginya.
Kini, ketika usianya telah memasuki sekitar 45 tahun, Dan Nalca bekerja sebagai penjaga di SMK Negeri Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua Tengah. Walaupun berasal dari Yalimo, pengalaman hidup sejak kecil membuatnya memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat dengan masyarakat di wilayah Agobaga, Dolinggame, dan sekitarnya.
PERJALANAN JAUH DARI AGOBAGA KE DOLINGGAME
Hari itu, Dan Nalca baru saja kembali mengikuti kegiatan gereja di Agobaga. Dari Agobaga, ia kemudian melakukan perjalanan menuju Kampung Dolinggame untuk mengunjungi keluarga Deli Wonda. Jarak yang ditempuh diperkirakan sekitar 15 kilometer.
Perjalanan yang cukup jauh itu ternyata membawa sebuah perjumpaan yang jauh lebih dalam daripada sekadar kunjungan biasa. Sesampainya di halaman rumah, Dan Nalca dan Deli Wonda berjabat tangan dan mulai berbincang. Dan Nalca kemudian menanyakan keberadaan kedua orang tua Deli. “Mama kamu di mana?” Deli menjawab bahwa ibunya sedang berada di belakang rumah dan sedang mencuci piring.
Tidak lama kemudian, Dan Nalca kembali bertanya tentang ayah Deli, Demiron Wonda, yang menurutnya merupakan sahabat dekat sejak masa kecil. “Sahabat saya, Bapak Demiron, di mana?” Pertanyaan sederhana itu kemudian membawa suasana percakapan berubah menjadi haru. Deli menjelaskan bahwa ayahnya telah meninggal dunia pada tahun 2017. Dan Nalca kembali menanyakan keberadaan kakek dan nenek keluarga tersebut. Deli pun menjelaskan bahwa mereka juga telah meninggal dunia.
Mendengar kabar itu, Dan Nalca terkejut. Kenangan lama terhadap sahabat dan keluarga yang dikenalnya sejak dahulu seakan muncul kembali. Air mata pun tidak dapat dibendung. Dan Nalca dan Deli kemudian saling berpelukan sambil menangis, mengenang orang-orang yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan kehidupan mereka.
KENANGAN LAMA KEMBALI HIDUP
Setelah suasana haru mereda, keduanya melanjutkan percakapan di halaman rumah. Dan Nalca banyak menceritakan pengalaman masa lalu, kehidupan keluarga, serta berbagai kenangan ketika masih hidup bersama masyarakat di wilayah tersebut. Percakapan berlangsung dalam suasana akrab. Sesekali keduanya tersenyum dan tertawa ketika mengingat berbagai peristiwa yang pernah terjadi pada masa lalu. Di tengah percakapan itu, Dan Nalca kemudian bertanya mengenai jumlah saudara Deli. “Kalian bersaudara berapa orang?”
Deli menjelaskan bahwa mereka awalnya berjumlah tujuh bersaudara, namun dua orang telah meninggal dunia. Mendengar cerita tersebut, Dan Nalca kembali menyampaikan rasa prihatin sekaligus memberikan penguatan. Ia mengingatkan agar anak-anak dalam keluarga tersebut tetap kuat menjalani kehidupan walaupun ayah, kakek, nenek, dan sebagian anggota keluarga telah lebih dahulu berpulang.
“TETAP BERSATU DAN UTAMAKAN TUHAN”
Salah satu bagian terpenting dalam pertemuan tersebut adalah pesan kehidupan yang disampaikan Dan Nalca kepada Deli Wonda dan adik-adiknya. Ia berpesan agar kehilangan orang-orang yang dicintai tidak membuat keluarga kehilangan arah kehidupan.
“Walaupun papa, tete dan nene sudah tidak ada, kalian harus tetap bersatu. Tetap utamakan Tuhan Yesus.”
Dan Nalca juga memberikan perhatian khusus terhadap pendidikan generasi muda dalam keluarga tersebut. Ia meminta Deli sebagai salah satu anak yang lebih dewasa agar terus membimbing dan mengarahkan adik-adiknya untuk bersekolah dengan baik.
“Arahkan adik-adik untuk sekolah. Mereka harus mengejar mimpi dan cita-cita untuk masa depan.”
Menurutnya, pendidikan merupakan salah satu jalan penting bagi generasi muda untuk mempersiapkan masa depan sekaligus menjadi manusia yang berguna bagi keluarga, gereja dan masyarakat. Pesan tersebut menjadi bentuk motivasi sekaligus penguatan dari seorang tua kepada generasi yang lebih muda.
BANGGA MELIHAT ANAK-ANAK BERHASIL DALAM PENDIDIKAN
Dalam percakapan tersebut, Dan Nalca juga mengungkapkan kebanggaannya terhadap anak-anak dan generasi yang telah bertumbuh melalui pendidikan. Dengan rendah hati ia menggambarkan dirinya sebagai orang biasa, namun merasa bahagia ketika melihat banyak anak telah memperoleh pendidikan dan sebagian telah bekerja dalam berbagai bidang. Ada yang sudah bekerja, ada pula yang masih berjuang membangun masa depan.
Bagi Dan Nalca, keberhasilan generasi berikutnya merupakan kebahagiaan tersendiri. Ia tidak melihat nilai seseorang hanya dari kedudukan atau kondisi dirinya sendiri, tetapi dari bagaimana kehidupan seseorang dapat memberikan dorongan dan pengaruh positif kepada generasi berikutnya.
MENGAPA ORANG DANI DIPANGGIL “BAPAK”?
Percakapan kemudian masuk pada sebuah cerita menarik mengenai hubungan historis antarmasyarakat di wilayah pegunungan Papua. Deli Wonda bertanya kepada Dan Nalca mengapa sejak kecil hingga dewasa dirinya terbiasa memanggil orang Dani dengan sebutan “bapak”. Dan Nalca menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut berkaitan dengan pengalaman generasi terdahulu.
Menurut cerita yang diterimanya, pada masa awal pelayanan Injil, orang-orang dari wilayah Dani turut melakukan perjalanan pelayanan dan berinteraksi dengan masyarakat di berbagai wilayah pegunungan. Dalam perjumpaan tersebut, mereka bukan hanya menjalankan pelayanan, tetapi juga membantu, mendidik, dan membangun hubungan kekeluargaan dengan masyarakat setempat. Pengalaman itu kemudian melahirkan rasa hormat yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
“Orang tua Dani dahulu datang dalam perjalanan pelayanan dan penginjilan. Mereka membantu dan mendidik kami. Karena itu, kalau kami bertemu orang Dani, kami biasa memanggil mereka sebagai orang tua atau bapak,” tutur Dan Nalca dalam percakapan tersebut. Cerita itu memperlihatkan bahwa hubungan antarsuku di Papua juga dibangun melalui sejarah pelayanan, persaudaraan, pendidikan, pertolongan dan kehidupan bersama.
HIDUP ADALAH PERJALANAN YANG MENINGGALKAN JEJAK
Kisah Dan Nalca bukan hanya cerita perjalanan seorang laki-laki dari Yalimo menuju Puncak Jaya. Di dalamnya terdapat cerita tentang seorang anak yang dibesarkan oleh keluarga lain, tentang kasih seorang mama yang menerima dan membesarkan seorang anak, tentang persahabatan lintas generasi, tentang kehilangan orang-orang tercinta, serta tentang pentingnya pendidikan dan persatuan keluarga.
Perjumpaan di halaman rumah sederhana di Dolinggame itu juga memperlihatkan bahwa hubungan kekeluargaan tidak selalu ditentukan oleh garis keturunan. Ada keluarga yang lahir dari kasih. Ada persaudaraan yang terbentuk melalui perjalanan hidup. Ada pula hubungan yang tetap bertahan meskipun waktu telah berlalu puluhan tahun.
Di tengah perubahan zaman, pesan Dan Nalca tetap sederhana tetapi kuat: tetap bersatu, utamakan Tuhan, jaga keluarga, sekolahkan generasi muda, dan jangan berhenti mengejar masa depan. Sore itu, percakapan berlangsung di halaman rumah Kampung Dolinggame sambil memandang alam dan kawasan kecil Ilu-Yamo. Sebuah kunjungan biasa akhirnya berubah menjadi ruang untuk mengenang masa lalu, mensyukuri kehidupan hari ini, dan menitipkan pesan bagi generasi yang akan datang.
Dari Yalimo menuju Puncak Jaya, dari Agobaga menuju Dolinggame, perjalanan Dan Nalca meninggalkan satu pelajaran: manusia boleh berasal dari tempat yang berbeda, tetapi kasih, persaudaraan, pendidikan dan iman dapat menjadikan mereka satu keluarga.